Minggu, 25 Maret 2012

Metoda Pengajaran Anak Usia Dini

Metoda Pengajaran bagi Siswa Pra Sekolah (Pendidikan Anak Usia Dini)

a. Sasaran Pengajaran PAUD

Sasaran pengajaran pada anak usia dini dengan pendekatan BCCT berkenaan dengan pijakan (schaffolding) dan penilaian (assessing) bermainnya, sebagaimana dalam CCCRT (dalam Depdiknas, 2007) adalah kelompok usia 3 -5 tahun dilaksanakan di Sentra Balok.

b. Metode Pengajaran

Menurut Sudjana (2004) metode pembelajaran untuk anak usia dini hendaknya menantang dan menyenangkan, melibatkan unsur bermain, bergerak, bernyanyi dan

1) Bentuk Metoda Pengajaran

Terdapat beberapa metoda pengajaran untuk anak usia dini , antara lain : Montesori, High Scope, Reggio Emmilia, Beyond Center and Circle Time (BCCT) dan sebagainya.

Metode Pengajaran yang digunakan adalah BCCT.

2) Dasar Teori

BBCT merupakan salah satu model pembelajaran berbasis bermain (a play-based curriculum) yang berdasarkan pada teori, berfokus pada intensitas dan densitas dari perencanaan, pengelolaan, pijakan pengalaman main yang dijabarkan sebagai berikut :

· Maslow : Kebutuhan dasar harus terpenuhi sebelum meningkat pada kebutuhan yang lebih tinggi.

· Anna Freud : Mengemukakan garis perkembangan berisi urutan tahap perkembangan anak dari ketergantungan menjadi mandiri, dari irrasional menjadi rasional, dari hubungan pasif dengan realita menjadi aktif.

Salah satu dari enam garis perkembangan Anna Freud yang digunakan sebagai dasar teori BCCT ini adalah garis perkembangan yang menunjukkan bahwa anak belajar mulai dengan badan, mainan, dan bermain.

· Erick Erickson : Anak perlu dikembangkan rasa percaya pada diri sendiri dan lingkungannya, kemandirian, inisiatif, dan ketekunannya.

· Lev Vygotsky : Anak perlu mendapatkan bimbingan sesuai dengan kebutuhannya.

· Jean Piaget : Anak belajar menemukan dengan menggali segala sesuatu sesuai dengan tahap masing-masing anak untuk membangun pengetahuannya.

Selain teori diatas, juga melibatkan teori-teori dari ahli lain seperti Charles Wolfgang, Howard Gradner, Sara Smilansky, konstruktivisme serta Neurosains dan lain-lain.

Dalam buku Pedoman Penerapan Pendekatan “Beyond Centers and Circle Time (BCCT)” (Pendekatan Sentra dan Lingkaran) dalam Pendidikan Anak Usia Dini (Depdiknas, 2007) disebutkan bahwa :

Pendekatan Sentra dan Lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam ligkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (schaffolding) untuk mendukung perkembangan anak yaitu (1) pijakan lingkungan main; (2) pijakan sebelum main; (3) pijakan selama main dan (4) pijakan setelah main.

Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan bahwa pendekatan dalam Konsep dasar dalam BCCT yang digunakan adalah berpusat pada anak (child centered approach) yang mencakup 3 prinsip yaitu prinsip PAUD, prinsip perkembangan, prinsip pendekatan Sentra dan Lingkaran.

Prinsip PAUD

Prinsip Perkembangan Anak

Prinsip Pendekatan Sentra dan Lingkungan

(1) Berorientasi pada kebutuhan anak secara individu.

(2) Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.

(3) Merangsang kreativitas dan inovasi, tercermin pada kegiatan yang membuat anak tertarik, fokus, serius dan konsentrasi.

(4) Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar yang menarik dan menyenangkan.

(5) Mengembangkan kecakapan hidup anak.

(6) Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.

(7) Dilaksanakan secara bertahap dan berulang yang mencakup semua aspek perkembangan.

(1) Anak belajar bila kebutuhan fisiknya terpenuhi dan merasa aman dan nyaman dalam likungannya.

(2) Anak belajar terus-menerus, dimulai dari membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan, menemukan kembali suatu konsep hingga membuat sesuatu berharga.

(3) Anak belajar melalui interaksi sosial, baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya.

(4) Minat dan ketekunan anak memotivasi belajar anak.

(5) Perkembangan dan gaya belajar anak harus dipertimbangkan sebagai perbedaan individu.

(6) Anak belajar dari yang sederhana sampai yang kompleks, yang kongkrit ke abstrak dan dari diri sendiri ke interaksi dengan orang lain.

(1) Keseluruhan proses pembelajarannya berlandaskan pada teori dan pengalaman empirik.

(2) Setiap proses pembelajaran harus ditujuan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan majemuk) melalui bermain yang terencana dan terarah disertai dukungan pendidik dalam bentuk 4 jenis pijakan.

(3) Menggunakan standar operasional baku (sob) dalam proses pembelajaran: (1) pendidik menata likungan main sebagai pijakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak; (2) ada pendidik yang bertugas menyambut kedatangan anak dan menyambut kedatangan anak serta mempersilahkan bermain bebas (waktu untuk penyesuaian); (3) Seluruh anak mengikuti main pembukaan; (4) pendidik memberi waktu anak untuk ke kamar kecil dan minum secara bergilir / antri (pembiasaan antri); (anak masuk kekelompok masing-masing dibimbing pendidik; (5) Pendidik duduk bersama anak membentuk lingkaran untuk memberikan pijakan pengalaman sebelum bermain; (7) Pendidik memberi cukup waktu kepada anak untuk melakukan kegiatan di sentra main yang disiapkan sesuai jadwal hari itu.; (8) Selama anak berada di sentra, pendidik secara bergilir memberikan pijakan kepada setiap anak; (9) Pendidik bersama anak membereskan peralatan dan tempat main; (10) pendidik memberikan waktu kepada anak untuk ke kamar kecil dan minum secara bergiliran; (11) pendidik dan anak duduk dalam lingkaran untuk memberikan pijakan pengalaman setelah main; (12) pendidik bersama anak makan bekal yang dibawanya (tidak dalam posisi istirahat); (13) kegiatan penutup; (14) anak-anak pulang secara bergilir; (15) Pendidik membereskan tempat dan mengecek catatan dan kelengkapan administrasi; (16) Pendidik melakukan diskusi evaluasi hari ini dan rencana esok hari; (17) pendidik pulang.

Sumber : Pedoman Penerapan Pendekatan “Beyond Centers and Circle Time (BCCT)” (Pendekatan Sentra dan Lingkaran) dalam Pendidikan Anak Usia Dini (Depdiknas, 2007)

Lingkungan bermain yang berkualitas tinggi bagi anak usia dini meliputi 3 jenis main yaitu sensorimotor, main pembangunan dan main peran, dan memenuhi densitas / keragaman main baik alat dan bahan (dengan rumus jumlah tempat main ± 3x jumlah anak) serta , intensitas / kecukupan waktu bermain.

Sesuai dengan aliran konstruktivisme, pembelajaran terjadi ketika anak memaknai dunia di sekeliling mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif jika melibatkan teman sebaya, orang dewasa, dan lingkungannya. Anak akan membangun pengertian mereka tentang dunia ini melalui memaknai apa yang terjadi di sekitar mereka melalui pengalaman-pengalaman yang dimilikinya.

Sesuai dengan Developmentally Appropriate Practice (teori dari Vygotsky) yaitu: kesesuaian dengan tugas-tugas perkembangan anak, dengan memperhatikan tingkat kesulitan pemberian tugas (Zone of Proximal Development).

Kesesuaian dengan usia dan keunikan anak, dengan memperhatikan kecerdasan majemuk (teori Gardner) yang terdiri dari : Logika-matematika, Intrapersonal, Interpersonal, Bahasa, Spasial/ruang bangun, Musikal, Natural, Bodikinestetik, Spiritual.

Mengembangkan kreatitivitas anak, sehingga unsur-unsur kreativitas harus terpenuhi melalui kurikulum, permainan di sentra (mengembangkan ide : pasir dan air, balok, peran, memasak, dsb), pertanyaan guru (bersifat terbuka).

c. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan yang akan dilaksanakan berada di Sentra Balok dilaksanakan sesuai dengan Standar Operasional Baku (SOB) di atas.

1) Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan yang paling awal dalam proses kegiatan belajar dengan metoda BCCT adalah pijakan lingkungan main yaitu berupa penataan lingkungan main. Seluruh kegiatan pendahuluan tercantum dalam SOB (dalam tabel di atas) no.1-4.

2) Kegiatan Inti

Kegiatan inti ditandai dengan masuknya siswa diiringi pendidik, dan duduk dalam posisi melingkar sebagaimana dalam SOB no. 5 -10.

Kegiatan bermain berjalan selama satu jam, anak bebas menggunakan alat dan bahan main sesuai kesepakatan yang telah dibuatnya bersama teman-temannya, misalnya di Sentra Balok : menggunakan papan alas, balok-balok serta asesorisnya membentuk bangunan sesuai dengan tema hari itu.

3) Kegiatan Evaluasi

Kegiatan evaluasi dilakukan dalam tiga tahapan esensial, sebagaimana diyatakan oleh Dodge yaitu :

a) Mengumpulkan data (collecting facts)

Data dikumpulkan melalui observasi, percakapan, hasil karya dikumpulkan menjadi portofolio.

b) Menganalisis dan mengevaluasi data yang terkumpul (analyzing and evaluating the collected facts).

c) Menggunakan pengetahuan yang dimiliki (using what you‘ve learned).

Hasil dari analisis dan evaluasi dapat digunakan untuk membuat perencanaan pembelajaran berikutnya, laporan kepada stakeholder, sebagai umpan balik untuk memperbaiki program dan kegiatan serta dapat digunakan sebagai penentuan perlakuan yang sesuai untuk anak agar ditempatkan sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Dari ketiga tahapan diatas dilaksanakan dengan cara pendidik secara bergilir memberikan dukungan pada setiap anak, dan melakukan pencatatan pengamatan sejak kedatangan anak, selama kegiatan bermain hingga anak pulang, pendidik mengumpulkan seluruh hasil karya anak dalam bentuk portofolio.

Penilaian perkembangan lebih berdasarkan pada penilaian yang bukan kuantitatif, melainkan kualitatif dengan memperhatikan kontinum jenis main pada setiap kegiatan main. Penilaian untuk ketiga jenis main dapat dilihat berdasarkan ketiga kontinum berikut :

o Fungsional/sensorimotor menurut CCRT :

o Constructive play /Pembangunan :